Aywawera Millenial: Dunia tanpa pintu

Aywawera Millenial: Dunia tanpa pintu

Made cenik lilig
motor ibi sanja, motor
Badung ke Gianayar
Gedebege muat batu,
batu cina, bais lantang cungguh barak

Lirik lagu di atas sangat melekat pada masyarakat Bali, bahkan diliris kembali. Made Cenik, adalah identitas orang Bali dan Cenik menandakan sebagai masyarakat yang kecil, di pulau kecil di gilas, ditindas oleh mobil (motor). Mobil itu produk modernitas yang kekuatannya menggilas, sebagaimana A. Giddens “Juggernaut”. Kemudian penulis lirik lagu menggunakan kata gedebeg yang sejalan dengan mobil. Mobil itu membawa batu Cina. Batu Cina? Jelas pasar dikuasai oleh Cina, sekarang ini Cina semakin maju dengan mobilenya, benar-benar menguasai jalur sutra. Basi lantang cunguh barak? Siapa dia? Tidak bukan tiada lain adalah orang barat, negara maju. Begitulah modernitas kekuatannya menggilas, satu sisi kita di mudahkan, disisi lain kita di jajah.

Ini zaman “nov” begitulah akun Facebook sumringah, tetua kita menyebutkan “wartamana“. Postulat perubahan itulah yang abadi demikianlah perubahan dari zaman perangko, telegram, telephone, hand-phone entahlah apa lagi yang akan datang. Bill Gates dengan bijak mengeluarkan anak panah “we always overestimate the change that will accur in the next two years and underestimate the cahne that will accur in the next tenDon’t let yourself be lulled into inaction” bahwa kita terlalu menaksir terlalu tinggi perubahan yang akan terjadi dalam 2 tahun kedepan dan meremehkan perubahan yang dapat terjadi 10 tahun ke depan. Jangan biarkan diri anda terbuai dalam kelambanan.

Apa kabar aywawera? masihkah anak-anak mellenial fasih menyebutnya, atau lidahnya mulai kaku atau aywawera sudah berubah wujud, dengan kata, bahasa yang lain. Aywawera tan wenang warah ing wong len tan siddhi phalanya bahwa jangan menyebarkan ajaran pada orang lain tidak akan berhasil, yang sejatinya secara esensial adalah bahwa dalam sistem aguroon-guron memberikan ajaran diperlukan sikap yang waspada dan hati-hati. Menjadi kata kunci adalah kata waspada yang dalam teks lontar di Bali sering disebut aywaweraaywa cawuhaywa bucecelaway ta apramadayatna ta kita, ini. Sistem aguron-guron memperhatikan dengan pola berjenjang (undagan) dalam sistem pendidikan sehingga tidak rancu. Ini seirama dengan pola Pendidikan zaman upanisad “duduk dekat di bawah guru”.

Era milleneal, generatiaon “y” tahun 90-an sampai sekrang terjadi ruang terbuka tanpa pintu, tinggal klik google, facebook, twitter, Instagram, Whatsapps, Line dan menu lainnya dunia akan terbuka. Lalu dimana posisi awyawera menjadi bahasa yang tidak gaul, trendy lagi namun esensinya bukan masalah tidak gaul tapi “waspada”. Dunia tanpa pintu itu bagi para millenial yang asyik dengan gadgetnya telah membuat lupa, kita menjadi konsumen yang telah diinabobokan, yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh, mereka duduk berkerumun, namun yang diajak komunikasi entah di mana, bahkan boleh di bilang gila tertawa, senyum, marah-marah sendiri, bahkan sampai mati di tabrak saat asyik bermain handphone.

Ruang sakral, semakin rapuh digerus arus modernisasi kini berada dalam genggaman hand-phone. Dibutuhkan tali pengendali yaitu waspada, dalam hal ini menu yang tersedia dalam google, youtube, facebook, bisa di jadikan pengetahuan namun bisa dibayangkan anak sekolah dasar mengakses gambar pornografi, film horror dan permainan kasar dan keras. Begitu pula yang remaja dan dewasa, mau dibawa kemana kita ini. Nah disinilah aywawera hadir yang lebih menitikberatkan pada kata “waspada”, “hati-hati” begitulah tetua kita telah membaca tanda zaman sehingga next generation Hindu tidak kehilangan arah, karakter dan menjadi manusia teralienasi (terasing) akan dirinya menjadi lupa diri dan lebih celaka menyamakan diri dengan handphone, sampai gantung diri, broken heart, broken home gara-gara handphone. Waspada para hacker, Saracen sedang membuat berita hoaks.

Dalai Lama memberikan air penyejuk bathin “kita takkan pemah memperoleh kedamaian di dunia luar sampai kita menciptakan kedamaian di dalam diri kita sendiri” demikianlah seberapa nikmatnya dunia tanpa pintu itu menyediakan lapangan kebahagian, kemudahan, kecanggihan, kegirangan namun menjadi semuan itu akan semu karena kedamian dalam diri belum ditemukan.

Versus generasi X dan generasi Y, Generasi X bilang kamu idealis, egosentris, suka melawa, cuek, mengejar kebanggaan, habus sekolah kuliah nongkrong di starbuck. Sedangkan geneari X sekolah jalan kaki, nonton TV hitam putih, dikosan makan mie instan. Apakah benar demikian? dibutuhkan harmonisasi, simbiose mutulaisme bagi keduanya. Ayo generasi Y bermetamorpose di dunia tanpa pintu ini tunjukkan dengan berkarya dimana agama tetap menjadi spirit. Sarasamuscaya 4 dengan jelas dan tandas mengajarkan: A pan ikang dadi wwangutama jugayanimittaning mangkanawenang ya tumulung awaknya sangkeng sengsaramakasadhana subhakarmahinganing kottamninag dadi wwang ika “Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama, sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara dengan jalan berbuat baik, demikianlah untungnya menjelma menjadi manusia”.

Sebagai umat Hindu tidak mungkin untuk tidak berkreativitas, hidup tidak akan eksis bila kita mengingkari kerja. Sebagai hukum ajaran karma yoga bersifat mutlak dan berlaku universal yang mengatur semua yang tercipta. Maka dari itu Mpu Kanwa dalam kakawin Arjuna Wiwaha menekankan pentingnya ajaran karma yoga sebagai spirit untuk dapat berprilaku bajik untuk mendapatkan kerahayuan. Syapa kari tan temung hayu masadhana sarwa hayuNyata katemwaning hala masadhana sarwa hala, Tewas alisuh manangsaya purakreta tinutSakaharepan kasidha maka darsana pandusuta “Siapakah tidak menemukan kerahayuan bila telah bersadanakan segala kebajikan, pasti mendapat celaka, ia yang bersadanakan segala yang buruk, bahaya bila menyangsikan ajaran karma yang purba ini, lalu apa lagi yang patut dianut, segala harapan akan berhasil bila meniru (laku tapa) Sang Arjuna.

Oleh: I Nyoman Dayuh
Source: Majalah Wartam, Edisi 33, November 2017

Previous Politik Aywawere, masihkah?

Sekretariat Pusat

Jalan Anggrek Neli Murni No.3, Kemanggisan, Kec. Palmerah, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta, 11480.

Senin – Jumat: 08:00 – 18:00

Didukung oleh

Ayo Berdana Punia

Tim IT PHDI Pusat © 2022. All Rights Reserved