Jakarta, 31 Juli 2025 — Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat turut serta dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan. FGD ini berlangsung di Ruang Rapat Ditjen Bimas Hindu, Lantai 14, Jl. MH Thamrin No.6, Jakarta. PHDI Pusat diwakili oleh I Ketut Budiawan dari Bidang Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
FGD ini mengangkat tema “One Upon atime in Lifetime Ciwa Temple of Perambanan” Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur, antara lain Ditjen Bimas Hindu, perwakilan Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, PT Taman Wisata Candi (TWC), serta pimpinan organisasi dan lembaga keagamaan Hindu berskala nasional.
Ketua Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, I Nyoman Ariawan Atmaja, S.T., M.D.M., dalam laporannya menyampaikan pentingnya membangun komitmen bersama dalam setiap program kerja pemanfaatan Candi Prambanan sebagai tempat ibadah umat Hindu, baik dari Indonesia maupun dunia. Ia menegaskan bahwa program terdekat adalah perayaan Maha Siwaratri yang akan digelar selama satu bulan penuh pada Januari–Februari 2026.
“Melalui FGD ini, kami ingin mendapatkan masukan terkait bentuk ritual Maha Siwaratri, program yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan umat Hindu, strategi memberi masukan kepada pemerintah serta pengelola candi, dan juga pengelolaan lingkungan agar tetap bersih dan hijau,” ujar Ariawan Atmaja.
Sementara itu, dalam sambutan Ketua Umum PHDI Pusat yang dibacakan oleh Ketut Budiawan, PHDI menekankan beberapa hal penting, yakni:
- Kegiatan ritual di Candi Prambanan harus merujuk pada Keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Tahun 2017 tentang penerapan budaya keagamaan Hindu di Indonesia.
- Karena Candi Prambanan berada di tanah Jawa, maka kearifan lokal Jawa hendaknya menjadi bagian utama dalam pelaksanaan budaya keagamaan.
- Perlu adanya sistem digital berbasis website untuk pengajuan izin/tirtayatra yang terintegrasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
- Candi Prambanan sebagai cagar budaya harus terus dijaga kelestariannya dengan melibatkan seluruh pihak.
Pesan penting juga disampaikan oleh Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, Dr. Ida Made Pidada Manuaba, S.Ag., M.Si., yang mewakili Dirjen Bimas Hindu. Ia menegaskan bahwa Candi Prambanan memiliki peran strategis sebagai pusat orientasi spiritual umat Hindu Indonesia dan dunia, pusat orientasi ekonomi keumatan, serta pusat orientasi kebudayaan Nusantara. Untuk itu, perlu dukungan dari seluruh elemen masyarakat.
FGD ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, yaitu:
- Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba (Aspek Agama dan Historis)
- Sugi Lanus (Aspek Sosial Budaya dan Lingkungan)
- I Putu Ngurah Sedana, GM TMII (Aspek Ekonomi)
Diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan, menghasilkan sejumlah rekomendasi penting yang akan dibawa dalam FGD lanjutan. FGD berikutnya direncanakan akan melibatkan lebih luas unsur pemerintah dan pimpinan lembaga/organisasi Hindu nasional dalam rangka merumuskan strategi pemuliaan Candi Prambanan dan penyelenggaraan Maha Siwaratri 2026.

Menutup acara, Dirjen Bimas Hindu Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., menyampaikan pesan Menteri Agama yang mengapresiasi umat Hindu atas kemampuannya menyelesaikan permasalahan secara internal dengan baik. “Kepercayaan ini harus dijaga dan diimplementasikan secara lebih luas untuk menjaga harmoni bangsa,” ujarnya.
Prof. Duija juga menyampaikan wacana penting ke depan agar seluruh candi di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagaimana Candi Prambanan. “Kita perlu mulai memikirkan pembentukan lembaga yang bertugas khusus menangani hal tersebut,” pungkasnya.
