Artikel

Diperbatasan Lidah Sejatinya Zona Anugerah

Lagi kita bicara tentang lidah. Karena lidah adalah sarana berucap, berbahasa, dan menyuarakan sari-sari shastra. Dan juga karena lidahlah yang biasanya dirajah dalam upacara inisiasi, untuk mendudukkan Saraswati, bahkan Sang Hyang Pashupati, agar kata-kata yang ke luar tidak kosong seperti ampas. Berikut ini, sedikit tambahan perbincangan tentang lidah. Ada pandangan seperti berikut ini dalam shastra. […]

Mutiara Nitisastra

Menganut ajaran agama Hindu, kaum terpelajar, filosof, ahli sosio-religius, dan masyarakat dunia memahami Nitisastra sebagai kompendium ajaran agama Hindu yang hipogramnya tiada lain ialah Kitab Suci Weda. Pun demikian, Nitisastra mengandung ajaran yang luas. Namun secara sempit diartikan sebagai ajaran tentang kebijaksanaan duniawi, etika sosial politik, tuntunan dan juga berarti ilmu pengetahuan tentang negara atau iimu […]

Pendidikan Politik Hindu

Berbicara soal pendidikan politik Hindu, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kitab-kitab kesustraan Hindu, baik yang ada di India maupun yang ada di Indonesia, khususnya di Bali. Seperti, kitab Manawadharma Sastra, Arthasastra, Nitisastra, Rajadharma, kitab Dhandaniti, dan lain-lain. Artinya, ketika mau berbicara soal pendidikan politik Hidu, maka rasanya tidak mungkinjika tidak merujuk kitab-kitab yang disebutkan di […]

Trias Politika Hindu

Pemikiran mereka, bahkan telah merambah ranah yang menurut para pemikir politik modern cukup kontroversial, yakni apakah politik Hindu bersifat religius atau sekuler? Doktrin politik Santiparwa dengan tegas menyatakan bahwa, “Tanpa politik, Weda pun akan sirna, semua aturan hidup akan musnah, semua kewajiban akan terbaikan, tujuan hidup manusia tidak mungkin tercapai, sehingga pada politiklah semuanya berlindung.” […]

OM TAT SAT: Om Itulah yang (sejati) Ada

Om adalah getaran alam semesta yang teridri atas tiga huruf AUM, suara ajaib yang menyebabkan segalanya ada, teratur dalam satu harmoni semesta. Om merupakan satu kesatuan utuh dari daya cipta, memelihara dan melebur yang merupakan esensi dari kehidupan. Buwana kosa menyatakan la halus teramat sulit dipahami yang gaibnya bagiakan angkasa, tiada namun kenyataanya ada. Om adalah […]

Menembus Segala Rahasia Melalui Mata Spiritual

Na tu mam sakyase drastumanenaiva sva-caksusadivyam dadami te caksuhpasya me yogam aisvaram(Bhagavad-gita 11.8) “Sesungguhnya engkau sama sekali tidak bisa melihat Wujud-Ku dengan mata duniawimu ini.Oleh karena itu, Aku berikan engkau mata spiritual divya-caksu, dan (melalui divya-caksu tersebut) lihatlah kehebatan dari kekuatan yoga-aisvarya-Ku”. Caksu berarti mata, dan divya berarti spiritual, agung, mulia. Sloka ini memberikan peringatan […]

Aywawera: Elemen atau Ornamen?

‘Aywawera’ atau ‘haywa werah’ adalah sebuah kata majemuk atau klausa imperatif (subjek orang kedua lesap) bentukan dari ‘aywa atau haywa (jangan, janganlah)’ dan ‘werah atau wera (membuka rahasia, lalai, ceroboh; ribut, heboh)’. Kata ini passim ditemukan terutama dalam teks-teks tutur berbahasa Jawa Kuna dan Kawi-Bali yang umumnya ditulis ‘ajawera’. Khusus untuk kata ‘aywa’, bentuknya beragam dalam bahasa Jawa Kuna, seperti ‘haywa’, ‘aywa’, […]

Aywawera Millenial: Dunia tanpa pintu

“Made cenik liligmotor ibi sanja, motorBadung ke GianayarGedebege muat batu,batu cina, bais lantang cungguh barak“ Lirik lagu di atas sangat melekat pada masyarakat Bali, bahkan diliris kembali. Made Cenik, adalah identitas orang Bali dan Cenik menandakan sebagai masyarakat yang kecil, di pulau kecil di gilas, ditindas oleh mobil (motor). Mobil itu produk modernitas yang kekuatannya […]

Medsos dan Budaya Koh Ngomong

Sebuah ungkapan sederhana ‘Aywawere’ pemah tumbuh subur dan berkembang secara luas di masyarakat pada zamannya. Pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung persoalan-persoalan agama dan budaya yang kerap tidak mendapat jawaban yang memuaskan selalu diakhiri dengan ucapan ‘Aywawere’ sebagai jawaban pembenar terakhir yang tidak terbantahkan. Sesungguhnya ‘Aywawera‘ ini sebuah ungkapan yang pemah tenget (sakral) beberapa dekade yang lalu, namun kini di […]

Politik Aywawere, masihkah?

Bali itu penuh simbol. Tak banyak yang bisa langsung memahami maknawinya. Pun peneliti asing, Sthepen Lansing (2006) salah satunya. Hildred Geertz (1975) saat menulis kekerabatan orang Bali juga pusing, dan menyimpulkan Bali itu dalam banyak hal misleading. Durasi dalam kebudayaan lain adalah kenyamanan waktu, di Bali tidak berlaku. Sirkulasi lebih penting karena banyak idiom justru bisa […]

Sekretariat Pusat

Jalan Anggrek Neli Murni No.3, Kemanggisan, Kec. Palmerah, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta, 11480.

Senin – Jumat: 08:00 – 18:00

Didukung oleh

Ayo Berdana Punia

Tim IT PHDI Pusat © 2022. All Rights Reserved